Home » » Otot Achilles Meloloskan Manusia Modern Dari Seleksi Alam

Otot Achilles Meloloskan Manusia Modern Dari Seleksi Alam

Otot Achilles atau otot pergelangan kaki rupanya memegang peran penting dalam keberhasilan manusia modern melewati proses seleksi alam. Benarkah?
 


Kesimpulan itu diperoleh sekelompok peneliti dari Universitas Arizona yang mempelajari panjang tendon Achilles pada delapan orang atlet. Dipimpin oleh David Raichlen, mereka melakukan scan MRI terhadap pergelangan kaki partisipan dan membandingkannya dengan level energi masing-masing saat berolahraga di atas treadmill.

Dari percobaan itu ditemukan, atlet dengan otot Achilles lebih pendek kehilangan lebih sedikit energi dalam setiap langkah dan, secara teoritis, bisa berlari lebih jauh sebelum kelelahan. Demikian dilansir Daily Mail, Sabtu (5/2/2011).

Mereka kemudian mengukur sisa tengkorak manusia Neanderthal, yang punah sekira 38 ribu tahun silam. Diketahui, tulang pergelangan kaki mereka jauh lebih panjang ketimbang manusia sehingga sulit untuk berlari melewati jarak yang jauh.

Profesor Raichlen menambahkan, kemungkinan manusia Neanderthal mengalami evolusi sehingga memiliki tendon lebih panjang sehingga kelompok yang tinggal di daerah hutan sejuk itu bisa menyergap hewan buruan mereka. Sebaliknya, Homo Sapiens yang tinggal di wilayah Afrika mengejar hewan buruan mereka dengan jarak yang lebih panjang.

Ilmuwan lain mengklaim, penemuan ini bisa menjadi kunci untuk memahami mengapa Neanderthal menghilang dari muka bumi, 38 ribu tahun lalu.

Ketika permukaan es mencair 50 ribu tahun lalu, wilayah hutan Eropa tempat kaum Neanderthal tinggal berubah menjadi tundra. Hal ini jelas menyulitkan mereka untuk melarikan diri, karena tidak bisa berlari melewati jarak jauh. Bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa manusia Neanderthal terdorong masuk ke wilayah hutan yang terisolasi di selatan Eropa.

Sementara, nenek moyang kita berhasil beradaptasi sehingga bisa terus berburu di wilayah datar yang terbuka dan dingin. "Kita berada dalam tempat dan waktu yang tepat," ujar direktur Museum Gibraltar Clive Finlayson.

0 komentar:

Poskan Komentar