Home » » Pohon Mangga Tetangga

Pohon Mangga Tetangga

Jika ada dua rumah yang letaknya bersebelahan dan dihubungkan oleh pohon penghasil buah yang rimbun lagi ranum, maka kita perlu bertanya-tanya. Apakah kedua penghuni rumah tetap adem ayem saat musim panen raya, atau malah berseteru saat musim gugur alias banyak daun (dan ulat bulu) bertebaran?



Bagi tetangga bijak, mereka sukses menerapkan sistem bagi hasil. Meskipun akarnya di halaman sendiri, tapi karena daunnya jatuh ke sebelah, tak eloklah jika mereka tidak kebagian saat panen raya. Dan masing-masing bertanggung jawab atas kebersihan halaman serta kesejahteraan pohon itu. Mirip aset bersama yang harus dijaga.

Bagaimana kalau ada juga tetangga pelit dengan argumen, “Nih pohon kan akarnya di halaman saya, siapa suruh sampeyan cuma kebagian rantingnya?”. Lalu buahnya dia embat sendirian. Tetangga malang yang nggak kebagian cuma bisa misuh-misuh dalam hati. Dalam level berat mungkin sampai gonthok-gonthokan. Pak RT RW bisa turut campur.

Keluarga kami pernah mengalami kondisi seperti itu. Dulu, di rumah komplek sebelah ada pohon nangka yang panen rutin tiap tahun. Sayang sebagian rantingnya masuk ke halaman rumah kami. Terpaksa guguran daun-daunnya saya sapu tiap minggu, dengan harapan suatu saat akan dikirimin nangka satu biji kalau lagi berbuah… oh, satu buah maksud saya.

Saat memasuki musim berbuah, bakal nangka-nangka ranum itu sudah dibungkus karung lalu diikat tali oleh sang empunya. Alasannya agar tidak kemasukan ulat. Tapi saat panen, semua nangkanya lenyap tanpa bekas. Saudara-saudara di luar kota dikirimin satu-satu. Kami sebagai tetangga terdekat malah nggak kebagian sebijipun. Tapi tetap saja daunnya masih terus berserakan di depan pintu rumah kami.

Kesal? Maka ketika tetangga itu pindah rumah, gantian kamilah yang menguasai pohon itu. Mumpung penghuninya lagi kosong. Sampai-sampai tetangga baru pun terindoktrinasi bahwa ‘warga lama’ yang berhak atas pohon itu. Syukurlah, selanjutnya hubungan bertetangga kami sangat baik. Sistem bagi hasil sukses diterapkan. Entah itu berbagi buah saat panen maupun berbagi ulat dan guguran daun.

Saya tidak tahu apakah di kota besar macam Jakarta kerukunan antartetangga sangat baik, sampai bisa saling berbagi kalau lagi panen srikaya, rambutan, atau mangga madu? Yang saya tahu, terkadang kita pun nggak tahu siapa tetangga di sebelah kita. Di depan kita. Apalagi yang di ujung gang.

Tapi, oh, saya lupa… bukankah halaman rumah-rumah di kota besar sangat minim ya? Bahkan saking sempitnya, untuk berjalan pun harus melekukkan bokong dan mengempiskan perut. Jangankan ditanami pohon keras, untuk meletakkan pot kaktus mini pun harus mencari celah-celah kosong yang aman dari lintasan manusia penghuni rumah.

Sumber :http://sectiocadaveris.wordpress.com/2011/05/22/pohon-mangga-tetangga/

0 komentar:

Poskan Komentar