Home » » Zona Waktu Indonesia Disatukan

Zona Waktu Indonesia Disatukan

Zona waktu indonesia disatukan zona waktu indonesia yang terbagi tiga zona waktu indonesia disatukan untuk meningkatkan daya saing. Pemerintah akan menyatukan wilayah waktu Indonesia yang sekarang terbagi tiga zona waktu, yaitu Waktu Indonesia bagian Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT). Rencananya, semua waktu di Indonesia berpatokan pada WITA atau menjadi GMT+8.



"Penyatuan waktu itu di antaranya bertujuan untuk efisiensi birokrasi dan peningkatan daya saing ekonomi. Dengan adanya satu waktu ini maka penduduk Indonesia yang biasanya melakukan aktivitas bersama dalam zona WIB berjumlah 190 juta, maka akan meningkat menjadi 240 juta penduduk," kata Edib Muslim, juru bicara Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI), dalam workshop internalisasi MP3EI kepada insan pers, di Bogor.

Sejauh ini, sejak 1675 waktu di dunia berpatokan pada Greenwich Mean Time (GMT) di London, Inggeris sebagai titik 0. Letak geografis Indonesia yang berada di belahan timur, waktunya terbagi dalam GMT+7 (jam) untuk WIB, GMT+8 untuk WITA, dan GMT+9 untuk WIT.

Pada perkembangannya tidak semua negara menerapkan aturan Fleming itu secara utuh. Singapura yang berada di GMT+7, sejak 1982 menerapkan GMT+8 untuk kepentingan bisnis dan militer. Negara lain yang sudah mengubah sistem waktunya demi tujuan tertentu adalah Cina, India, Korea Selatan, Rusia, Samoa dan Tuvalu. Brazil dan negara anggota North American Free Trade Area (NAFTA) yaitu Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, kini juga mempersiapkan untuk menerapkan zona satu waktu.

Indonesia, kata Edib, bukan kali ini saja menerapkan zona waktu yang berbeda. Pada zaman pra kemerdekaan, pemerintah Hindia Belanda juga telah mengubah zona waktu di wilayah nusantara sebanyak lima kali.

Memasuki zaman kemerdekaan, Indonesia sudah empat kali melakukan pengubahan pada 1947, 1950 dan 1963. Pada 1987 Bali keluar dari zona WIB dan masuk WITA. Alasannya, semata karena memperhitungkan sektor pariwisata. "Bali kita geser ke kanan agar turis-turis Australia menginap semalam lagi. Kalau yang tambah menginap satu orang itu kecil, tapi kalo 100 ribu orang dikali 100 dolar AS berapa ? Itu baru hotelnya, belum dari suvenirnya," tambah dia.

Menurut Edib, Indonesia yang sekarang ini terbagi dalam tiga zona waktu dengan selisih antara zona satu jam, dinilai tidak efektif, misalnya, dalam waktu dagang antara dunia usaha di zona WIT dan WIB. Perhitungan KP3EI, jika jam transaksi perdagangan umum di Jakarta dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pukul 17.00 WIB, maka waktu efektif berdagang antara dunia usaha di WIT dan WIB hanya 4 jam.

Oleh karena itu, penyatuan waktu dilakukan demi mendorong peningkatan kinerja birokrasi dari Sabang hingga Merauke. Hal yang menjadi bagian dalam kerangka kerja KP3EI ini juga dimaksudkan untuk mendorong daya saing bangsa dalam hal sosial-politik, ekonomi, hingga ekologi.

Perhitungan KP3EI, dengan samanya ruang waktu yang berpatokan pada GMT+8 (Wita) maka masyarakat yang berada di kawasan tengah dan timur Indonesia bisa mempunyai ruang transaksi yang lebih banyak untuk bertransaksi dengan masyarakat di kawasan barat Indonesia. Kepala Divisi Humas dan Promosi MP3EI ini menambahkan, GMT+8 dipilih pemerintah dengan alasan sebagai tengah-tengah antara WIB dan WIT. Namun, mengenai hal ini, pemerintah masih akan membicarakannya lebih lanjut. "GMT+8 adalah menyampaikan Indonesia menjadi satu waktu," katanya.

Menurut Deputi Menko Perekonomian Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Lucky Eko Wuryanto, penyatuan waktu merupakan orientasi kebijakan yang akan diusulkan. Dikatakan, dengan menerapkan satu waktu bagi bangsa Indonesia maka semua dapat bergerak bersama. "Kalau ini diterapkan, sesungguhnya, kerugiannya itu akan sangat minimal dan justru banyak hal-hal positifnya," katanya. Langkah pemerintah yang akan memberlakukan zona satu waktu di Indonesia dinilai akan membuat Indonesia menghemat triliunan rupiah.

0 komentar:

Poskan Komentar