Home » » Dosen UGM Temukan Teknik Operasi Baru untuk Usus Besar

Dosen UGM Temukan Teknik Operasi Baru untuk Usus Besar

JAKARTA - Ketika terjadi penyumbatan di usus besar, maka pembedahan menjadi solusi yang diambil tim dokter. Namun, langkah ini ternyata memiliki risiko tinggi, termasuk kematian. Maka, staf pengajar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rochadi menemukan alternatif baru untuk meminimalisasi risiko tersebut. 


Pembedahan merupakan langkah yang biasa diambil oleh tim medis untuk menangani kasus penyumbatan pada usus besar atau yang dikenal dengan penyakit Hischsprung (Megakolon Kongenital). Meski demikian, laporan para dokter yang pernah dipublikasikan menunjukkan, langkah ini cukup berisiko dengan angka kegagalan akibat peradangan usus, komplikasi, susah buang air besar, dan kematian yang cukup tinggi.

Namun, teknik operasi baru untuk memperkecil timbulnya komplikasi yang diciptakan oleh Rochadi dapat meminimalisasi komplikasi tersebut. Penyakit Megakolon merupakan kelainan bawaan yang sering terjadi di Indonesia dengan insiden satu dalam 5.000 kelahiran, sehingga diperkirakan akan terjadi 1.200 kasus setiap tahunnya. Kelainan terjadi karena terjadi penyempitan saluran usus besar yang mengakibatkan penderita kesulitan buang air besar.

Rochadi memaparkan, tindakan pembedahan pada penderita Megakolon biasanya dilakukan dengan membuka dinding perut, membuat lubang pada perut, dan memotong usus besar dengan posisi operasi terlentang. Namun dengan teknik baru yaitu metode Posterior Sagittal Neuroctomy Repair for Hischsprung Disease (PSNRHD) tindakan pembedahan hanya dilakukan satu kali dengan melakukan operasi langsung pada daerah yang mengalami penyempitan lewat irisan intergluteal dengan posisi pasien telungkup.

“Teknik ini merupakan teknik operasi yang sederhana, cukup satu tahapan operasi, lebih cepat dan peralatan yang minimal. Kami harap, teknik ini bisa diterapkan di rumah sakit kabupaten karena kebanyakan operasi untuk penyakit ini hanya dikerjakan di rumah sakit tipe A,” kata Rochadi seperti disitat dari laman UGM, Jumat (24//2/2012).

Dia mengungkapkan, kelebihan lain yang dimiliki oleh teknik baru ini adalah pembedahan hanya membutuhkan waktu sekira 30 menit, jauh lebih singkat dibanding dengan operasi pada umumnya yang membutuhkan waktu sekira 2,5-3 jam. Selain itu, teknik operasi ini pun mampu memperkecil risiko terjadinya peradangan usus, komplikasi, susah buang air besar, dan kematian.

Teknik operasi ini telah dibuktikan Rochadi dengan melakukan penelitian pada Januari 2005 terhadap 104 penderita penyakit Megakolon dengan rentang berusia satu bulan sampai sembilan tahun. Berdasarkan penelitian tersebut, risiko terjadinya peradangan usus, komplikasi, susah buang air besar, dan kematian cukup rendah.

“Kejadian komplikasi yang tinggi juga terlihat saat pembedahan dengan teknik operasi lama, yaitu ada 16 kasus (35,6 persen). Sementara dengan teknik operasi baru hanya muncul enam kasus penderita yang mengalami komplikasi,” ujar dokter spesialis bedah anak RSUP Dr. Sardjito ini.

Penanganan penyakit Megakolon selain dengan jalan operasi juga dapat dilakukan dengan cara manual. “Untuk mengatasi penyumbatan usus besar, pada penderita yang tidak mau dioperasi biasanya para tenaga kesehatan di daerah melakukan pengobatan menggunakan pisang atau bambu yang dimasukkan ke anus. Cara ini sebenarnya berisiko melukai lubang anus,“ tuturnya.

Melihat kondisi tersebut pria kelahiran Pleret, Bantul, 5 april 1950 ini tergerak mengembangkan alat baru yang diberinama “Gama Sardjito” yang telah digunakan sejak 2005. Terbuat dari logam stainless steel, prinsip kerja alat ini adalah memperlebar atau merelaksasi lubang anus penderita Megakolon. “Proses penyembuhan memang tidak cepat, harus dilakukan terapi setidaknya selama tiga bulan,” kata Rochadi.

Alat yang diciptakan Rochadi selain memberikan alternatif pengobatan bagi penderita Megakolon, juga bisa diperoleh dengan biaya yang murah. Satu set alat ini rencananya akan dipasarkan tidak melebihi angka Rp100 ribu sementara di pasaran, alat ini biasa dijual seharga Rp500 ribu per setnya. “Saat ini memang tengah diurus pengajuan patennya,” ujarnya.

Disertasi berjudul “Terapi Pembedahan Dan Peran Gena Ret Pada Penyakit Hischsprung” ini pun mengantarkan Rochadi meraih gelar doktor.

Sumber:okezone.com

0 komentar:

Posting Komentar