Home » » Apakah Pendidikan itu Mencetak Manusia ?

Apakah Pendidikan itu Mencetak Manusia ?

Ini murni pendapat saya. Hasil sedikit renungan. Yach, coba memberanikan diri betafakkur mensyukuri nikmat otak yang Allah benamkan di balik tempurung kepala. Tentu juga ada inspirasi dari yang lain. Besar kemungkinan masih dangkal. Belum deep thinking, kata Harun Yahya. Ini tentang dunia kita. Pendidikan kita. Core-busines kita sebagai ayah. Tentang pengertiannya. Dasar-dasarnya. Masih seputar itu. Karena baru sebatas itu pemahaman. Inipun pemahaman masih skala awam, pemula. Walau kadang disebut ustadz di pengajian dan kolom fesbuk, atau instruktur di lembaga kursus. Tapi itu lebih merupakan sapaan dan do’a. Belum cermin sesungguhnya.

Frasa “seni mencetak manusia” tentunya akrab di dunia pendidikan, bukan? Hanya saja ketika sampai pada frasa itu, ada semacam stimulasi agar otak ini mencari tahu. Berfikir ulang. “Mencetak manusia??”, ya ini kata yang bikin penasaran. Sepintas normal saja bukan? Memang pendidikan khan untuk membentuk karakter manusia. Memanusiakan manusia. Lalu apa yang salah dengan analogi “mencetak”?

Benarkah pendidikan itu mencetak manusia?

# Ups, jangan terlalu serius begitu bacanya, he he. Lho kan ini memang tema serius? Ya harus serius!

sudah kalau mau serius….silakan. Nggak ada yang melarang, he he. Lanjuuuut….

Mencetak itu perlu cetakan yang bentuknya sudah jelas dan yang pasti bagus. Sudah diuji dan lulus standar. Gak boleh melenceng. Si pencetak harus tahu betul seluk beluk cetakannya, agar hasil cetakan tidak melenceng. Arti analogi ini: pemahaman pendidik sangat dominan memengaruhi murid.

Mencetak berarti merubah bentuk asal. Yang tadinya bulat menjadi persegi, misalnya. Arti analogi: ada proses taghyir atau perubahan dalam proses pendidikan.

Bentuk cetakan biasanya rigid. Kaku. Karena sifat inilah saat selesai proses akan menghasilkan bentuk sesuai cetakan itu. Kelebihannya ada, yaitu memungkinkan produksi dalam jumlah masal.

Tugas pendidik adalah menyiapkan bahan, meletakkan di tempat yang sesuai sesui posisi alat cetakan, dan melakukan proses mencetak. Bila manual, maka ia mulai dengan mencampur bahan, mengaduk hingga rata dan siap cetak. Bila perlu melalui proses pembakaran.

Kalau analoginya begini, alangkah beratnya jadi pendidik ya. Seakan dialah segalanya itu. Dan, tepatkah analogi ini?

Saya tidak bermaksud menggurui. Apalagi lebih paham dari para pakar pendidikan. Saya nggak ada apa-apanya. Saya hanya ortu biasa saja, nggak kurang nggak lebih. Ini hanya sedikit berani berpendapat. Itu saja. Karena itu tidak perlu dipertentangkan. Apalagi dikonfirmasi secara offline dengan para pakar itu. Cukup beri tanggapan saja di komentar bawah. Oke?

Selanjutnya coba kita simak pengertian pendidikan menurut Syaikh Ali Abdul Halim Mahmud di dalam buku “Perangkat- Perangkat Tarbiyah”, bahwa pengertian pendidikan (tarbiyah) adalah :

Cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (berupa kata-kata) maupun secara tidak langsung (berupa keteladanan, sesuai dengan sistem dan perangkat yang khas), untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik. Ringkasnya, pendidikan islamiyah adalah proses penyiapan manusia yang shalih, yakni agar tercipta suatu keseimbangan dalam potensi, tujuan, ucapan, dan tindakannya secara keseluruhan.

Cara ideal

Cara ideal, bukan cara biasa saja. Nilai ideal adalah sebuah pencapaian rasa. Ukuran idealnya adalah äbstrak. Kita menyebutnya optimal. Tidak selalu bisa dikuantifikasi jadi angka dan prosentase ketercapaian. Karena itu kita coba memahami kata kunci berikutnya: interaksi dan fitrah manusia.

Interaksi

Inilah prosesnya. Inilah syaratnya. Pendidikan tidak memerlukan sarana canggih atau teori yang njlimet. Pendidikan hanya menuntut interaksi. Artinya aksi dua arah. Dialog. Artinya ada kedekatan. Juga komunikasi yang intim. Ada moment manusia dimana kita bisa bertemu fisik dan hati. Bukan sekedar moment SMS, telpon atau facebook. Pada moment manusia itu tidak ada jarak secara psikologis. Ini bisa muncul kalau ada silaturahim, ta’aruf, pemahaman, keikhlasan upaya, kesungguhan, istiqomah, kecintaan, serta ketsiqohan.

Maka belum cukup dikatakan pendidikan kalau berhenti pada transfer materi. Karena ini bisa lewat fotocopian atau email. Belum dikatakan pendidikan yang ideal kalau hanya bertemu saat tatap muka, karena waktunya sangat terbatas. Belum dikatakan pendidikan yang berkualitas kalau murid belum dekat dan belum bisa berterus terang.

Interaksi ini tidak bisa digantikan oleh sarana canggih lain, semisal bawa laptop saat ngisi pelajaran. Bekal powerpoint di flashdisc, atau tumpukan buku paket. Bahkan oleh jejaring social dan komunikasi virtual semacam facebook, milis, skype atau chatting.

Fitrah manusia

Kata kunci yang paling mendasar sebenarnya adalah ini: fitrah manusia. Ia diletakan pada urutan ketiga kata kunci tersebut, hanya karena susunan kalimat saja. Tapi dalam unsur yang terlibat dalam pendidikan sendiri, inilah pokoknya. Inilah bahan bakunya. Tetapi itu sesuatu yang berproses. Bukan sesuatu yang diproses. Maka definisinya bukan cara ideal mencetak atau membentuk fitrah manusia. Karena pada semua insan fitrah itu sudah ada sejak lahir. Kita “hanya perlu” mengidealkan interaksi kita.

Pendidikan adalah memproses jadi baik. Bisa dari buruk menjadi baik. Bisa juga dari baik semakin jadi baik. Nah, siapakah yang memiliki fitrah yang paling bagus dalam menerima pendidikan? Mereka adalah yang fitrahnya terjaga. Kita biasa menyebutnya hanif. Tulus. Ada niat baik. Ada semangat belajar dan memperbaiki diri. Ada rasa hormat pada ilmu. Fitrah yang belum tertutupi. Belum terkunci ego dan kesombongan. Merasa diri sudah pandai.

Maka yang fitrahnya hanif itu bisa kita temukan pada mereka yang semangat menghadap Sang Khaliq secara berjamaah saat shubuh di masjid. Ada pada mereka yang jujur bertransaksi di tengah pasar. Yang memegang integritas di kantor-kantor. Ada pada mereka yang menjaga aurat di rumah-rumah. Ada pada jiwa-jiwa yang masih bersih. Jangan heran kalau mereka banyak ditemukan pada anak-anak muda, Karena fitrahnya yang belum terkontaminasi. Karena itu jangan heran dengan pilihan Umar ra yang menjatuhkan pilihan pada anak gadis penjual susu untuk jadi menantu. Karena di sana ada kejujuran, kehanifan. Itulah fitrah yang terjaga.

Tak hanya itu, jumlah mereka yang hanif itu masih teramat banyak. Tidak akan habis. Asal kita mau mencari. Mendatangi. Tidak usah berburu. Karena mereka ada di sekeliling kita. Bahkan di antara gerombolan geng motor, anak jalanan, kantor partai, gedung dewan, kantor pajak, imigrasi, atau sidang pengadilan. Di café remang-remangpun mereka ada. Bahkan diantara mereka yang suka ke gereja dan kuil. Kalau belum bertemu, itu lebih karena para pendidik sudah malas mencari. Bukan karena tidak adanya mereka.

Mereka itu berpotensi jadi pahlawan hingga mu’alaf, juru kampanye sampai presiden, penjaga toko yang amanah hingga pembimbing haji. Jadi professional atau ibu yang penyayang. Bisa jadi syaikh, ulama, bahkan pemimpin pasar. Tugas para pendidik adalah adalah mencari dan memunculkan fitrah itu dan berinteraksi dengannya.

Dengan kata kunci “interaksi” ini, barangkali analogi yang lebih enak adalah: menyalakan api. Kita hanya perlu api yang cukup. Bahkan kecil saja. Itulah ketauladanannya. Kemudian dekatkan dengan bahan yg akan dibakar. Itulah interaksinya. Kadang sebentar, kadang lama sesuai objeknya. Bila waktunya tiba, segeralah saksikan api yang menyala itu.

Dengan kata “interaksi” ini, maka kata kunci berikutnya : langsung, tidak langsung, perubahan, kondisi lebih baik, menjadi tinggal mengikuti saja.

Ingin gambaran lainnya? Barangkali dalam mencari sekolah buat anak2 kita, filosofi mencetak ini lebih dominan dibanding menyalakan api. Maka dicari sekolah dengan kualitas cetakan terbaik, berupa gedung megah ber AC, lapangan serba guna nan luas dan serba komplit, studio, lab bahasa n komputer. Juga seabrek pilihan ekskul. Guru-gurunya bertitel di kiri dan kanan. Kalau perlu lulusan luar negeri, dari timur maupun barat.

Konsekuensinya, sekolah menjadi mahal dan mengerikan bagi sebagian besar warga. “Orang miskin dilarang sekolah”, kata pemerhati sosial. Anehnya, golongan kelas menegah nan idealis juga banyak yang ikut-ikutan terbawa arus ini. Baik menyekolahkan maupun saat mendirikan sekolah. Mereka pada berbondong-bondong berburu sekolah favorit, bertitel internasional, percontohan, juara, unggulan, model, labshool, teladan, IT, boarding school atau alam. Rupanya semangat seorang Bahrudin asal Salatiga yg mendirikan sekolah komunitas Qoryah Thoyyibah, ber biaya Rp 2000 sehari tidak begitu seksi untuk diminati.

Kalau filosofi yang dipake adalah menyalakan api, maka sebenarnya segalanya menjadi sederhana. Dunia pendidikan yang kita geluti sebenarnya mencontohkan ini dengan sangat gamblang. Pendidik sebenarnya tidak perlu bertitel berderet-deret. Pendidik yang diperlukan adalah kasih sayang yang melimpah, kedekatan, ketauladanan, semangat belajar dan kreatifitas. Seterusnya biarlah anak-anak kita menyala, berkobar, terang benderang dengan sendirinya. Negara dalam hal ini berkewajiban memberi fasilitas. Jangan biarkan hantu nan mengerikan bernama “kesenjangan” menerjang dunia pendidikan kita.

Sederhana bukan?

Tetapi rupanya kita lebih silau dengan bungkus, istilah keren dan tampilan luar. Barangkali kita sendirilah yang membuat pendidikan jadi rumit. Nafsu kita yang membuat jadi malas berinteraksi. Kemudian disibukkan dengan sesuatu yang tidak terkait langsung dengan proses pendidikan. Seperti seragam, gedung, ujian nsional, kompetisi, standarisasi, PSB, de el el… Sedangkan bagaimana melimpahi sekolah dengan pendidik yang penuh kasih sayang, dekat dengan siswa, yang memberi tauladan, bersemangat belajar dan kreatif hanya dalam angan dan keinginan.

Bagaimana pendapat Anda?



Sumber:olich.blogdetik.com/

0 komentar:

Poskan Komentar