Home » » Senin Pagi, Waspadai Jatuhnya Reruntuhan Satelit Rusia

Senin Pagi, Waspadai Jatuhnya Reruntuhan Satelit Rusia

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan satelit Rusia yang gagal meluncur ke Planet Mars, Phobos-Grunt, akan jatuh secara tak terkendali pada rentang waktu malam ini, Minggu (15/1), hingga Senin (16/1) dini hari pukul 04.00 WIB.

Lapan memperkirakan satelit berbobot 13,2 ton itu jatuh di Samudera Hindia atau lebih ke wilayah dekat Afrika. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan reruntuhan satelit ini jatuh di wilayah Indonesia.

Astronom Ma'rufin Sudibyo mengingatkan masyarakat Indonesia untuk mewaspadai jatuhnya runtuhan satelit tersebut. "Masyarakat jangan sekali menyentuh atau mendekati reruntuhan aneh yang sebelumnya didahului suara menggelegar di langit saat fajar atau sore hari," ujar Ma'rufin.
Menurut Ma'rufin, saat-saat yang perlu diwaspadai yakni pada saat fajar sekitar pukul 03.00-05.00 WIB atau sore hari sekitar pukul 13.00-16.00 WIB.
"Secara prinsip ada dua bahaya yang perlu diwaspadai yakni bahaya tumbukan dan toksisitas. Jadi kalau masyarakat menemukan reruntuhan satelit itu, jangan langsung mendekat atau memegang. Segera laporkan ke pihak berwenang," ujar Ma'rufin.

Bahan Bakar Utuh
Dia mengatakan, jika reruntuhan lebih dari 200 kilogram itu jatuh dan menimpa rumah, akan mirip seperti kasus jatuhan meteor di Duren Sawit pada 2010 lalu. Bahaya selanjutnya adalah bahaya toksisitas karena Phobos-Grunt karena mengandung senyawa kimia sangat beracun, Dimetil Hidrain. Jika terkena kulit akan menyebabkan melepuh dan bisa menyerupai luka bakar.

Sebelumnya, pesawat ini mengalami kesalahan teknis yang membuatnya terdampar di orbit sekitar Bumi, alih-alih menuju satelit Mars untuk mengumpulkan sampel tanah. Potensi bahaya ada pada 12 ton bahan bakar roket yang belum sempat dipakai dalam perjalanannya ke Phobos ke satelit Mars yang bentuknya mirip kentang penyok.

Sejumlah ahli yakin, bahan bakar satelit tersebut membeku, oleh karena itu ia bisa selamat dari pembakaran atmosfer. Akibatnya, bisa berbahaya jika bocor di daerah berpenduduk. Misi Phobos-Ground yang berbiaya US$ 170 juta adalah usaha Rusia yang paling mahal dan paling ambisius sejak berakhirnya era Uni Soviet.











Sumber:suaramerdeka.com

0 komentar:

Poskan Komentar