Home » » Kegiatan Ospek Yang Disalah Fungsikan

Kegiatan Ospek Yang Disalah Fungsikan

Musim penerimaan siswa dan mahasiswa baru telah dibuka dihampir setiap sekolah atau universitas, itu artinya musim ospek (plonco) pun akan dilaksanakan dan bahkan sudah dilaksanakan disebagian sekolah atau universitas. 
 
 
Kegiatan ospek seakan menjadi agenda wajib tahunan yang diadakan oleh pihak penyelenggara pendidikan yaitu sekolah atau  universitas. Sejatinya kegiatan positif ini memiliki kesan baik dan mendidik bagi calon siswa/mahasiswa yang mengikutinya dan memberikan kesan baik bagi anak baru terhadap kakak kelasnya (seharusnya seperti itu).

Ospek, Kegiatan Positif Yang Disalah Fungsikan

Dari beberapa pengalaman yang aku alami dan teman-temanku dan juga adik-adikku yang juga pernah merasakan kegiatan ospek, menanggapi negatif kegiatan ospek yang mereka ikut terlibat didalamnya. Berbagai komentar yang keluar dari mulut mereka, tidak ada satupun yang bisa membuat mereka bangga akan kegiatan ospek. 
 
Kenapa? Mungkin apa yang aku pikirkan dari kegiatan ospek ini berbanding terbalik dengan apa yang kalian pikirkan. Secara pribadi aku tidak suka dengan sistem per-ospek-an di hampir sebagian besar institusi pendidikan di Negara ini. Semuanya sama, dan sama-sama menyusahkan.

Ospek yang seharusnya bertujuan untuk mengenalkan calon pelajarnya kepada lingkungan sekolah/universitas serta instansi di dalamnya, rasanya hal itu sudah tidak ada lagi. Kegiatan ospek yang saat ini dilakukan pihak sekolah terkesan mengarah kepada unsur pemaksaan. Kenapa demikian? Lihat saja betapa peserta ospek melakukan kegiatan ospek itu dengan rasa terpaksa di batin mereka. 
 
Mereka dipaksa untuk membawa semua bekal yang disuruh seniornya untuk dibawa, sementara bekal itu mustahil untuk didapatkan. Seperti contoh, harus membawa buah jeruk yang berisi 15 ruas. Tentu untuk mencari itu sangatlah mustahil, bahkan seorang petani jeruk sekalipun tidak bisa memastikan ada berapa ruas yang ada didalam buah jeruk yang ia tanam. 
 
Kalau bekal yang diminta senior tidak dibawa atau tidak sesuai, sudah bisa dipastikan peserta ospek akan kena batunya. Padahal para senior itu sendiri belum tentu bisa mendapatkan hal-hal aneh seperti mereka minta.


Kelurga Juga Menjadi Korban
Kalau bicara ospek, tidak hanya peserta saja yang merasakan efek pusing dan capek itu. Pihak keluarga lebih merasa pusing dengan permintaan yang aneh-aneh tadi. Biasanya, peserta ospek itu menjalani ospek sampai malam dan sudah mendapat arahan untuk membawa bekal keesokan harinya. 
 
Bekal yang aneh-aneh tentu sulit untuk dicari dimalam hari, walhasil satu rumah ikut kewalahan untuk memenuhi permintaan sang anak demi tidak mendapat hukuman oleh sang senior. Permintaan yang aneh-aneh dan banyak sudah pasti membutuhkan biaya. PENDIDIKAN ITU MAHAL BUNG, benar pendidikan itu memang mahal, tati tidak untuk kegiatan menghambur seperti ini.


Pasal Tidak Mengikat itu Harus Direvisi
Satu hal lain yang membuat aku tidak suka dengan kegiatan ospek adalah pasal tidak mengikat yang digunakan senior sebagai senjata andalannya.

Pasal 1 : Senior tidak pernah bersalah.

Pasal 2 : Apabila senior bersalah, kembali ke pasal 1


Pasal seperti apa ini? Secara tidak langsung pasal ini mengajarkan seseorang untuk menjadi seorang penguasa tanpa rasa manusiawi. Tidak ada orang yang ingin ditindas semena-mena, apalagi cuma dari seorang senior. Oke kalau memang melakukan kesalahan, itu wajib mendapat hukuman sebagai efek jera. Tapi jika senior yang melakukan kesalahan, apa dianggap tidak pernah bersalah? Peraturan darimana itu. Seharusnya pasal picik ini harus direvisi menjadi,

Pasal 1 : Senior tidak pernah salah

Pasal 2 : apabila senior bersalah, mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Saya rasa seperti ini lebih berimbang antara senior dan juniornya. Mengakui kesalahan demi hubungan baik terhadap adik kelas lebih baik daripada tidak mau mengakui kesalahan demi gengsi sebagai seorang senior.

Ospek, Kegiatan Positif Yang Disalah Fungsikan

Ospek bukan tempat adu kekuatan bang.. Sejatinya kegiatan ospek itu menjadi moment yang tepat bagi para senior untuk memberikan contoh yang baik kepada juniornya. Masih jaman kah kekerasan di dunia pendidikan? Haruskah kegiatan ospek dinodai dengan kekerasan? 
 
Atau kalau tidak ada kekerasan bukan ospek namanya kali ya. Terkadang perselisihan pada saat ospek lebih banyak dimulai dari senior, tapi karena gengsi sebagai senior, minta maaf pun enggan. Jangan samakan ospek seperti jalan raya untuk arena balap, mahasiswa/pelajar adalah kaum akademisi bukan kaum jalanan.

Sudah saatnya paradigma ospek yang sudah membuat resah itu dirubah, ospek harus memberikan kesan baik dan menyenangkan bagi yang menjalaninya. Sudah saatnya pihak sekolah/universitas terjun langsung memantau kegiatan positif ini agar tidak terjadi hal-hal yang menyimpang.


Sumber :http://www.hefamily.org/10162/ospek-kegiatan-positif-yang-disalah-fungsikan

0 komentar:

Poskan Komentar